Minggu, 19 Maret 2017

Sedikit Cerita Tentang Perjalanan dari Ranu Gumbolo

Selamat pagi mak,
Iya ini aku anakmu yang lama tidak ada kabar. Pagi ini aku tidak kemana-mana, aku sedang kehabisan uang saku. Kerja belum tanggal gajian, toko online ku juga sedang sepi, mau minta duit ke emak aku juga malu. Apakah emak marah padaku, semoga ini kekurangan sangu ini bukan kutukan darimu mak, hari ini aku mau bercerita tentang perjalananku mak, jangan Tanya kenapa, karena pasti aku akan menjawab tadi aku iseng-iseng buka poto lamaku, ya aku tertarik untuk menceritakan perjalananku ke tulungagung.

Perjalan ini adalah perjalanan solotraveling terakhirku setelah dari bandung. Jangan minta minta anakmu ini untuk menceritakan perjalanan ke bandung ya mak, itu menyakitkan, sebuah perjalanan yang ku maksudkan untuk menghapus luka justru malah melahirkan luka baru. Baiklah mak, aku akan mulai cerita perjalananku ke tulungagung. Perjalanan yang di prediksi oleh gugel mep akan memakan waktu sekitar 4 jam 22 menit ini aku awali dari kostku mak. Aku berangkat pagi-pagi sekali, dengan motor kredit yang belum lunas ini aku bertolak dari Surabaya jam 7 pagi mak.

Tidak ada hal istimewa yang ku temui selama perjalanan, sampe pada akhirnya aku berhenti di salah satu pom di jombang, di situ aku merasa ada yang bergetar dihatiku, iya ,ini tempat singgah yang sama ketika aku beristirahat dalam perjalanan ke pacitan bersama dia kala itu. Setelah mengisi bensin, nggak full sih Cuma 20ribu, aku beristirahat sejenak beli pentol 5ribu sambil bernostagia dengan kenangan masa itu.

Oh iya mak, aku lupa tujuan utamaku kali ini adalah kesebuah tempat yang dinamai Ranu Gumbolo. Iya sebuah tempat yang katanya indah dan yang terpenting lagi ngehits dikalangan traveler jawa timur. Setelah beristirahat dari pom jombang aku melanjutkan perjalan melewati Kediri, kemudian tulungagung. Tidak banyak hal ku ceritakan dalam perjalanan berangkat ini, selain hanya ke nostalgiaanku dengan semua perjalanan ke pacitan waktu itu, aku sedikit menyesal kenapa dulu aku mengambil rute ini, seharusnya aku lewat madiun langsung ponorogpo. 

Kemarin aku sudah searching mak, lokasi ranu gumbolo ini masih satu kawas an dengan waduk wonorejo, tepatnya di desa wonorejo, kecamatan pagerwojo, kabupaten tulungagung, jawa timur. Nek soko pusat kota tulungagung kurang lebih sekitar 24km mak.  Rupanya akses menuju wisata ranu gumbolo ini bisa ku bilang mudah, meskipun ada beberapa jalan yang aspalnya sedikit mengelupas dan rusak, biasalah mak, di tempat kita malah jalannya belum diaspal.

Sekedar info untuk rekan-rekan traveler jika dari Surabaya bisa menggunakan kendaraan pribadi mengikuti petunjuk jalan arah tulungagung, setelah nyampe tulungagung ikuti arah wonorejo. Kemuadian melewati pintu masuk waduk wonorejo, ikuti saja jalan sampe menemukan sd dan ambil jalur ke kanan sampe ada jalan pertigaan, jika lurus kita sampe di waduk wonorejo, tapi tujuan kita kearah kanan, ikuti jalan lagi sampe ketemu parkiran ranu gumbolo.

Aku sampe sana jam set 12 siang mak, ku parkirkan motorku kemudian berjalan kea rah loket tiket masuk, loketnya masih sangant sederhana hanya gubuk dari bambu. Biaya parkirnya masih standart mak, 2ribu saja. Untuk masuknya di tarik 5ribu. Tempatnya memang bagus tapi ramainya masyallah. Wuih ramai sekali, bener-bener ramai. 

Kebanyak pengunjungnya anak-anak muda dengan gerombolannya, ada juga bebera keluarga kecil, aku simpulkan sendiri karena ada laki dewasa yang pasti itu bapaknya, wanita dewasa aku yakin itu ibuknya, dan dua atau tiga anak di bawah umur pasti itu anaknya dong. Sisanya lagi adalah sepasang muda-mudi yang sedang berpacaran, iya aku dulu sempat begitu, sebelum luka ini ada. 

Tempatnya memang keren, indah lah pokoknya, fasilitas sudah ada juga, banyak aktifitas yang bisa dilakukan disana mak. Mulai sekedar melihat pemandangan saja, mancing atau mau seperti mereka yang pacaran sambil nyewa bebek-bebekan sumbo. Aku sih lebih tertarik mengeluarkan kamera bututku mak, dengan kemampuan fotografiku yang sangat jauh dari kata pro, bahkan bisa dibilang asal-asalan ku abadikan bebera hal yang menarik lewat mata kameraku. 

Sekitar jam set 2 aku memutuskan hengkang dari sana mak, aku harus mencari mushala karena waktu dzuhur sudah hamper habis. Ku pacu motorku lewat ku lewat jalan yang sama dengan jalan berangkat tadi hanya saja kali ini berlawanan arah. Sampai aku ketemu pom, aku sembahyang di mushala pom itu mak, setelah isi bensin ku lanjutkan perjalanku, dalam perjalan pulang ini banyak hal yang menarik perhatianku mak. Tenang mak akan ku ceritakan semuanya.

Ketika aku sedang memacu motorku, aku terpaksa harus mengerem mendadak karena ada rombongan yang menyebrang, tapi rombongan yang berjalan beriringan dalam barisan ini agak berbeda dari yang biasanya menyebrang di jalan. Yang baru saja kuliahat menyebrang adalah sekawanan bebek mak, iya sekawan bebek yang di kawal oleh pengangonnya. Karena menarik dan jarang ku tememui akhirnya ku parkirakan motorku dank u keluarkan kameraku, kemudian ku abadilan bebera poto tukang angon bebek tadi.

Setelah beberapa jepretan ku rasa sudah cukup, dan kulanjutkan lagi perjalanan ku. Setelah bebera saat kupacu motorku cukup jauh dari kawanan bebek lagi, aku temui hal langka yang jarang ku lihat di Surabaya, bahkan dikampung kita pun sudah tidak ada mak, emak pasti tidak mengira disini masih ada anak-anak yang berbagi lapangan dengan kebo, ya anak-anak tadi bermain bola, sementara si kebo asik merumput seolah tidak peduli, tidak sedikitpun terganggu dengan aktivitas anak-anak itu. Karena rasa tertarik itu kembali ku turunkan gas motorku dan berhenti. Kebetulan di dekat situ ada warung es degan, ku piker pasti akan sangat nikmat sekali menonton anak-anak bermain bola dengan kerbau itu.

“pak es degane setunggal nggeh” kataku pada bapak si penjual es degan, yang rupanya juga sedang menonton anak-anak bermain bola juga.
“diunjuk mriki nopo dibungkus mas?” Si bapak bertanya.
 “minum sini aja pak” jawabku. Tak berapa lama segelas es degan pun sudah terhidang di depanku. Sambil minum es degan kunikmati juga gorengan dan telur puyuh. Enak ternyata mak, kapan-kapan emak harus membuatkanya untukku. 

Ku teguk es deganku beberapa kali, kemudian kukeluarkan kameraku, ku tinggalkan warung itu sebentar, “sekedap pak nggeh, tak njepret lare-lare sing bal-balan niku” pamitku pada bapak es degan. Tak kudengarkan jawaban si bapak, aku langsung nyelonong ke lapangan, ku abadikan beberapa poto,. Setelah kurasa cukup aku kembali ke warung
.  
Belum aku duduk si bapak sudah bertanya, “ wartawan to mas?, 
Ku jawab saja sekenaku, “nggeh, sampiyan purun tak wawancarai to pak?”
wawancarane bab opo mas, tapi ampun di poto nggeh kulo dereng adus” kata si bapak polos.
 “tenang pak aman, iki kelise wis entek” jawabku meyakinkan dia. 
“monggo mas, sampiyan ajenge wawancara nopo”.

Perlu emak tahu saat itu Aku sok-sokan serius jadi wartawan. 
“ Jadi begini pak, saya mau tanya soal tukang angon bebek, disini masih banyak to pak?” Aku memulai acara pura-pura wawancara itu. 
Oalah sontoloyop to mas? Nek diomong katah jane yo ora mas, nanging yo sek ono lah” si bakul es degan menjawab dengan pedenya. 

“Sek-sek pak, kok sontoloyo to, bukane sontoloyo iku sejenis pisuhan ngono to” kataku bingung. 
Ngene mas, bene sampiyan gak salah faham koyo wong2, aku cerito rodok dowo yo mugo2 sampiyan iling, biyen iku sejatine sontoloyo iku sebutan kanggo wong sing profesine tukang angon bebek, sampiyan lakyo ngerti wong angon bebek ki mesti ning sawah sing ono tandure, lha selain mangan orong2. Jangkrik, walang, cacing, keong, beberapa jenis suket, bebek maeng yo mangan tandurane wong, lha mergo perkoro maeng, sing ndue sawah lakyo muring-muring to, deweke mesti mbengok –oalah sontoloyo-, mulai dari iku setiap orang yang merusak tandurane wong mesti diomong sontoloyo, mergo kelakuane podo” sejenak si bapak mengela nafas kemudian melanjutkan ceritanya.
“seiring berjalannya waktu, panggilan sontoloyo tadi tidak hanya untuk seorang pengangon bebek ataupun orang yang merusak tandurane wong. Tapi untuk semua orang yang penggaweane ngrusak mesti dibengok –oalah sontoloyo-, ngono mas ceritae” si narasumber tadi mak bercerita panjang lebar.

oalah ngoten to pak, faham saiki aku” ku jawab sambil melirik jam, tidak terasa sudah jam 3 lebih, kemudian aku bayar pesenanku tadi lalu pamit. 
 “kulo pamit nggeh, mpun sore, mengkin kulo kewengen dugi suroboyone” 
si bapak menjawab. “nggeh mas wartawan, ati-ati sawangane wis mulai mendung iki” 
kemudian kembali ku pacu motorku ke Surabaya, sempat istirahat di Kediri untuk sembahyang. Lanjut lagi sampe akhirnya magrib aku tok suroboyo. Sekian tadi cerita perjalan anakmu ke Tulungagung kota marmer mak, nanti akan kuceritakan perjalan ku ke kota-kota lain.

berikut beberapa poto hasil jepretan dengan kemampuan potograpiku yang dibawah standart:








Bebera teman bertanya tentang:
ranu gumbolo tulungagung, tumpak bledek tulungagung, misteri waduk wonorejo tulungagung, ranu kumbolo kediri, jalan menuju waduk wonorejo tulungagung, lokasi ranu gumbolo tulungagung, ranu gumbolo tulungagung tulungagung regency, east java, ranu gumbolo tulungagung kabupaten tulungagung, jawa timur, letak danau ranu kumbolo,

1 komentar: