Isi yang termaktub dalam Kode Etik Pecinta Alam, yang dirumuskan
pada tahun 1974, pada kegiatan Gladian Nasional di Makasar, yaitu sbb :
1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Memelihara Alam beserta isinya, serta menggunakan sumber sesuai
dengan kebutuhan.
3. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat
sekitarnya serta menghargai manusia dengan kerabatnya.
4. Mengabdi pada Bangsa dan Tanah-Air.
6. Berusaha saling membantu serta saling menghargai dalam
pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah-Air.
7. Selesai
INTERPRESTASI.
Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Tidak lain dan tidak bukan, tujuan hidup kita dimuka bumi ini adalah
dalam konsep untuk senantiasa mengabdi pada Allah, selaku hamba-hamba-Nya yang
tunduk dan patuh pada hukum-hukum-Nya, atau sunatullah.
Pengabdian yang dilakukan atas dasar ketakwaan, dimana arti takwa
bukan sebatas menghindari apa-apa yang dilarang-Nya, serta mengikuti apa yang
disuruh-Nya semata, namun dalam pengertian yang lebih jauh lagi. Konsep
pengabdian dalam kerangka takwa adalah, untuk senantiasa menjaga dan memelihara
hubungan komunikasinya dengan Allah, karena hal itu merupakan pokok pijakannya
yang utama dari konsep keimanan dalam dirinya.
Manusia dengan seluruh perangkat, peringkat serta predikat yang
dimilikinya, hanya bersifat entitas relatif didepan Tuhan, dan seringkali tak bernilai
apa-apa, kecuali manusia tadi mempunyai tingkat keimanan dan ketakwaan
pada-Nya.
Entitas mutlak didepan Tuhan dari seorang manusia adalah hanya
derajat keimanan dan ketakwaannya, dan kelak hal itu pula yang akan menentukan
derajat sesungguhnya seorang manusia didepan Tuhannya. Pengabdian dalam konteks
ketakwaan, adalah “menjaga” dan “memelihara” hubungan, dimana untuk menegakan
tali hubungan tadi dibutuhkan sejumlah sarana, termasuk sistem kesadaran, ilmu
dan pengetahuan.
Memelihara Alam beserta isinya, serta menggunakan sumber sesuai
dengan kebutuhan.
Manusia diciptakan Tuhan dengan sebuah tujuan, yaitu menjadi
khalifah dimuka bumi, dan rencana ini sudah digariskan bahkan ketika Adam AS
diciptakan dalam surga. Sebagai bekal maka Adam AS diajarkan Allah berbagai hal
mengenai alam semesta ini, yang kemudian di test oleh para malaikat dan
merekapun hormat atas kemampuan Adam AS dalam menjawab berbagai pertanyaan para
malaikat tadi. Adam dan keturunannya adalah khalifah, yang artinya setiap
manusia telah dibekali Allah potensi yang sama seperti yang dimiliki oleh Adam
ini, layaknya seorang khalifah yang bijak, maka faktor menjaga amanah / titipan
adalah sebagai sesuatu yang harus diprioritaskan, yaitu menjaga dan memelihara
alam semesta beserta isinya ini.
Seperti yang kita ketahui, manusia diciptakan oleh Allah dari
saripati tanah, atau menjadi anak-anak asuh dari bumi yang merupakan ibu susu
mereka, yang dibesarkan untuk menjadi putra-putra mahkota kekhalifahan di alam
semesta ini. Bumi adalah ibu yang jujur dan sabar, yang mengajari anak-anak
susunya untuk belajar mandiri, seraya menerima energinya untuk meningkatkan
kekuatan, kepandaian, kecerdasan, dan kebijakan kesadarannya.
Seperti ibu kandung kita sendiri yang dengan sabar menyusui
anak-anaknya, beliau tidak mengeluh ketika air susunya dihisap oleh bayinya,
karena beliau tahu, betapa fungsi ASI selain memberikan kehidupan juga
kesehatan dan kesejahteraan hidup dimasa yang akan datang. Layaknya seorang
bayi pula, dia akan menghisap sebatas “secukupnya” yaitu ketika perutnya sudah
kenyang maka diapun berhenti menghisap, sekalipun mungkin ASI ibu masih banyak,
namun seorang bayi tahu sampai dimana tingkat kebutuhannya, dan dia hanya
mengambil sebatas kebutuhannya tersebut tidak kurang dan tidak lebih.
Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitarnya
serta menghargai manusia dengan kerabatnya.
Diantara sejumlah anugerah yang diberikan Allah pada kita adalah hidup,
akal dan agama, dan kewajiban manusia untuk senantiasa menghargai serta
mempertahankan anugerah tadi, sekaligus sebagai tanda syukur nikmat manusia
kepada Tuhannya. Kehidupan adalah anugerah, dan bahkan Tuhanpun siap dengan
anomali atau penyimpangan dari hukumnya (sunatullah), demi untuk mempertahankan
kehidupan mahluk-Nya ini.
Pernahkah terpikirkan, bahwa setiap materi ketika dibekukan maka dia
akan lebih berat dibandingkan dengan zat sebelumnya ?. Zat yang membeku, baik
yang asalnya gas maupun cairan, ketika membeku dan mengeras menjadi padat, maka
dia akan lebih berat dari saat dia pada kondisi gas atau cairan, kecuali air !.
Air adalah anomali atau penyimpangan dari hukum tadi, karena air
ketika dibekukan menjadi es, justru menjadi lebih ringan sehingga mengambang
diatas permukaan air. Mampukah kita bayangkan, jika Tuhan memberlakukan hukum
yang sama terhadap air, yaitu es tenggelam dalam air, dan akibatnya niscaya
seluruh kehidupan bawah laut di kutub-kutub bumi pada saat musim dingin akan
mati dan punah, karena tergencet oleh balok es yang tenggelam sampai kedasar.
Mengabdi pada Bangsa dan Tanah-Air.
Dimana bumi dipijak disana langit kita junjung, menyiratkan
loyalitas sekaligus rasa syukur terhadap sebuah fondamen ideologis yang selama
ini telah mendukung bangunan ujud integritas diri kita sendiri sebagai seorang
anak bangsa ini. Bangsa dan tanah air menggambarkan suatu bentuk hubungan
primordial antara manusia dengan bumi yang dipijaknya, dan langit yang
dijunjungnya, atau dalam konteks sebuah kawasan dimana kita berada, serta
konsep kebangsaan dimana aspek wawasan ditanamkan.
Dengan menghilangkan konsep kebangsaan dan tanah airnya, maka kita
akan kehilangan identitas diri sebagai sebuah pelaku sejarah dalam derap
peradaban yang dibangun oleh umat manusia.
Pada saat yang sama, kita juga akan mengalami degradasi integritas
diri, dimana bangunan kesadaran kita pada sejarah primordial kita, hanya
tinggal reruntuhan puing-puing memori, yang kadang tanpa makna atau cuma
meninggalkan sepercik arti saja.
Mengabdi pada bangsa dan tanah air adalah sebuah manifestasi bahwa
kita mempunyai akar sejarah, mempunyai jangkar yang cukup dalam terbenam dalam
lautan peradaban dan budaya manusia, dimana kehilangan hal itu akan membuat
kita menjadi gamang karena kehilangan ciri dan arti diri, seraya
diombang-ambing dan dihempaskan oleh badai tantangan jamannya. Mengabdi pada
bangsa dan tanah air, bukan hanya dipandang bagi kepentingan bangsa dan tanah
air itu sendiri, namun secara hakikat adalah kita tengah mengabdi pada diri
sendiri, karena bangsa itu adalah diri kita dan tanah air itu adalah saripati
tanah, dimana asal ujud kita diciptakan. Menghianati bangsa dan tanah air,
adalah berkhianat pada diri kita sendiri, yang secara perlahan dari bawah sadar
muncul kekuatan negatip bagaikan monster yang mengancam, yaitu benci diri.
Benci diri adalah sumber penyakit manusia yang utama, sementara
cinta diri adalah sumber kekuatan atau vitalitas diri, dimana menghargai dan
mencintai diri sendiri akan menumbuhkan pemahaman tentang daya tarik diri, yang
akan berujung pada adanya konsep harga diri.
Harga diri selaku individu jika dipelebar kedalam skala kelompok
besar adalah kehormatan bangsa, atau kebanggaan atas bangsanya, lengkap dengan
sejarah masa lampaunya, serta cita-cita kebangsaannya yang akan dijelmakan pada
masa yang akan datang.
Bentuk pengabdian pada kelompok adalah juga pengabdian pada dirinya
sendiri selaku anggota kelompok, sehingga manfaat secara kolektif maupun
individual, secara langsung akan terasa. Pengabdian juga merupakan bentuk rasa
syukur kita pada Sang Pencipta, dimana dengan adanya entitas primordial kita
itu, maka kita tidak akan hilang tergerus oleh gemuruhnya peradaban global.
Berusaha memperkuat tali persaudaraan antar Pecinta Alam, dengan
azas Pecinta Alam.
Hawa atau dorongan kecenderungan dari nafsu manusiawi adalah membuat
jarak, atau adanya ruang pemisah antara dirinya dengan apapun disekitarnya.
Nafsu membuat ruang, semata-mata demi kebutuhan sang nafsu untuk menujuk
dirinya sendiri secara jujur, seraya menetapkan dirinya sebagai entitas mandiri
dalam proses individualisasi.
Namun “hawa” nafsu justru membuat jarak dalam ruang tadi, sehingga
pemisahan, keterpisahan (separateness) dan parsialisasi merupakan konsekwensi
logis yang terjadi akibat adanya jarak tadi. Nafsu menolak rasa sakit dan
mencari kesenangan semata, sekalipun cuma untuk kesenangan sesaat saja, dan
bertanggung-jawab adalah sakit dan sama sekali tak menyenangkan, sehingga
cenderung untuk ditolak.
Untuk menghilangkan tanggung-jawab atas dirinya, maka dia memecah
dirinya sendiri, seraya pecahan-pecahan dari dirinya tadi dia serahkan pada
pihak-pihak lain untuk dipertanggung-jawabkan.
Kesehatan adalah tanggung jawab dokter, kejiwaan adalah tanggung
jawab psikolog, moralnya adalah tanggung jawab ustad atau pendeta,
intelektualnya adalah tanggung jawag guru atau dosen, dan semua bagian dirinya
dibagikan. Akhirnya dia samasekali tidak menyisakan sepotongpun bagian dari
dirinya sendiri, dan oleh karenanya dia merasa sah untuk berpendapat bahwa dia
tidak bertanggung jawab atas dirinya sendiri, karena tanggung jawab yang menyakitkan
itu, sudah habis dibagikan pada pihak lain.
Dia bahkan tidak memiliki dirinya sendiri, karena dengan dirinya
sendiripun sudah terbentang sebuah jarak. Serpihan dirinya yang dimiliki pihak
lain, membuat dia melepaskan tanggung-jawab atas dirinya, dan itu membuat
nafsunya terbebaskan dari rasa bertanggung-jawab yang menyakitkan.
Namun ketika dia tidak lagi memiliki dirinya sendiri, bahkan justru
jarak-jarak yang tercipta, perlahan namun pasti menimbulkan bentuk kesakitan
baru, yaitu dia merasa diasingkan, terasingkan, bahkan asing pada dirinya
sendiri, yang tidak pernah dimilikinya. Padahal pada awal manusia hidup, maupun
kelak saat menjemput kematian, kita lahir sendiri dan matipun akan sendiri
pula, tanpa kawan dan sanak saudara, seolah kita menjadi terasingkan.
Pelajaran manusia akan keterasingan ini, seharusnya membuat mereka
justru untuk lebih memahami konsep kebersamaan, karena fakta bahwa penyakit
manusia yang utama muncul saat manusia merasa diasingkan (alienasi) oleh
lingkungannya, bahkan oleh dirinya sendiri.
Kebersamaan adalah jalan positip menuju kesehatan jiwa dan
kepribadian kita, dan proses awalnya dimulai dengan tidak memecah diri dan
mengasingkannya, namun justru mengumpulkan semua pecahan tadi, menyatukannya
dalam konsep ujud diri yang utuh, dan mencoba untuk belajar bertanggung jawab
atas dirinya oleh dirinya sendiri.
Kita yang mengambil tampuk kemudi atas diri kita sendiri, dan diri
kita adalah sesuatu yang utuh tidak terpisah-pisah, yang mempunyai identitas
dan integritas diri. Manakala ujud diri yang utuh sudah terbentuk, dan kita
secara sadar tidak lagi membagi diri, dan membuat jarak dengan diri sendiri,
bahkan dengan berani mengambil tanggung-jawab atas keseluruhan diri kita, maka
dimulailah suatu proses sadar, untuk menghilangkan jarak dengan sesuatu yang
lain, diluar diri kita.
Sesuatu yang lain itu yang pertama-tama adalah saudara kita sesama
Pecinta Alam, dimana kita disatukan antara satu dan yang lainnya oleh ikatan
kesadaran kolektif yang sama, yaitu kecintaan terhadap alam yang kita tinggali
ini, dan rasa kasih sayang pada bumi, ibu susu kita sendiri. Kesadaran kolektif
yang sama, juga akan menumbuhkan benih rasa sayang, yang tergambarkan dalam
ikatan persaudaraan secara tulus, iklas, dan yang pasti adalah bersifat alamiah,
tanpa usah dengan tambahan polesan artifisial yang seringkali menipu.
Persaudaraan yang dibangun dalam wacana kegiatan di alam terbuka
umumnya jauh lebih alamiah, sehingga tidak heran jika diantara sesama Pecinta
Alam dengan cepat tumbuh keakraban dan kehangatan yang jarang dimiliki oleh
persaudaraan antar kelompok yang lain.
Seringkali persaudaraan ini sedemikian kental, sehingga ketika salah
seorang Pecinta Alam tersesat digunung, maka dengan serempak para Pecinta Alam
berdatangan dari segenap penjuru belahan tanah air untuk ikut membantu mencari
rekannya.
Seorang rekan yang bukan saudara, bahkan tidak dikenalnya secara
pribadi, namun ketika mereka adalah sesama Pecinta Alam, maka untuk menemukan
dan menyelamatkan hidup mereka yang hilang, maka keamanan diripun dipertaruhkan
dengan iklas.
Betapa banyak operasi SAR yang memakan tenaga beratus orang Pecinta
Alam selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan kadang lebih dari sebulan,
mereka tinggal di base-camp atau pada team-team flying-camp dipelosok rimba,
dengan tujuan semata menemukan korban secepatnya, agar jiwa mereka tertolong.
SAR ( Search and Rescue) adalah pengejawantahan dari rasa
persaudaraan tadi, yang tidak dimiliki oleh kelompok lainnya, sehingga jiwa
militan mereka sudah terlatih dan teruji dengan sendirinya, dan semuanya
dikemas dalam sebuah konsep persaudaraan diantara sesama pecinta alam serta
kerabat manusia yang lainnya.
Berusaha saling membantu serta saling menghargai dalam pelaksanaan
pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah-Air.
Pengabdian adalah muara dari aliran sungai kepecinta-alaman, yang
akhirnya akan terjun lepas pada samudera kehidupan berbangsa dan bernegara,
dengan tujuan untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, baik pada
lingkungan terkecil keluarga, maupun sampai dengan yang terbesar, yaitu skala
ummat manusia.
Pengabdian yang paling utama adalah pada Tuhan, yang sepenuhnya
didasari oleh rasa cinta yang tulus dan iklas, dan dengan basis cinta Tuhan
tadi maka dibangun pula cinta bangsa serta cinta negara.
Rasa cinta yang bersifat idealistik abstrak memerlukan implementasi
yang terkuantifikasi secara jelas, dan untuk itu diturunkan kedalam bentuk
pengabdian, yaitu berupa program-program aplikatif yang relevan dengan dunia
kepecinta-alaman. Adalah hal yang wajar jika setiap individu atau setiap
kelompok Pecinta Alam di tanah air mempunyai obsesi atau keinginan untuk
mengabdi pada agama, bangsa dan negaranya.
Sementara bentuk program pengabdian itu seringkali diwarnai oleh
latar belakang kelompok itu sendiri, sehingga seringkali secara teknis bersifat
sangat sektoral.
Pecinta alam dengan aneka ragam latar belakang kelompok, jenis
pendidikan, sektor penguasaan, dll., membuat pengayaan program-program ini,
dimulai dari peduli bencana alam, penghijauan lahan gundul, operasi SAR dan
operasi kemanusiaan lain, pembuatan desa binaan, penelitian ilmiah dari
berbagai sudut pandang dan disiplin keilmuan atas suatu wilayah, dll.
Semuanya adalah semata demi pengabdian pada tanah air yang
dicintainya, yang sejak awal telah menjadi doktrin pokoknya, dan merupakan
sumber inspirasional dari sikap militan serta energi vitalitas yang
dikandungnya.
Namun demikian, seringkali juga kita mendapatkan fakta, antara
cita-cita dan kemampuan tidaklah sebanding dihubungkan dengan sarana dan
prasarana yang tersedia, sehingga hanya dengan uluran tangan sesama rekan saja,
maka program-program tadi dapat dilaksanakan, dengan konsep saling membantu,
menambal kebocoran, memperkuat kelemahan, dan menyediakan hal-hal yang tidak
dapat diadakannya.
Kita sepenuhnya sadar bahwa siapapun itu, baik individu maupun
kelompok pasti mempunyai sejumlah potensi kekuatan diri, namun juga mempunyai
segi-segi kelemahan serta keterbatasannya.
Rangkuman dari Buku Intersection (Yayat Lessie)
source; boughil.blogspot.com/2013/01/kode-etik-pecinta-alam-dan.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar